Sebuah Media Sosial yang membayar aktivitas penggunannya baru saja diluncurkan, bernama Tsu Sosial Media. Untuk penggunaan maupun pendaftaran di Tsu sama dengan Sosial Media lainnya, yaitu gratis
namun yang membedakan dengan Twitter, Facebook, Instagram dan lainnya
adalah keuntungan perusahaan dari iklan yang tampil menjadi milik
perusahaan, namun pada media sosial Tsu pendapatan yang didapatkan dari
sponsor maupun partner dibagikan kepada pengguna mereka sampai dengan 90%.
Untuk mendapatkan pembagian keuntungan dari Tsu cukup mudah, hanya dengan update status, upload foto, berkomentar maupun mengundang teman untuk ikut menggunakan Tsu. Sebenarnya setiap apapun yang Anda lakukan pada media sosial manapun merupakan sebuah konten yang bernilai, yang menarik para pemasang iklan maupun sponsor pada media sosial, namun keuntungan dari konten milik Anda tersebut tidak diberikan kepada Anda sama sekali, Anda hanya disuruh update status sebanyak-banyaknya, upload foto narsis tanpa bayaran, jadi komentator pada status teman tanpa keuntungan apapun, padahal semua itu adalah konten berharga bagi perusahaan Social Network. Namun di sosial media baru bernama Tsu ini mereka memberikan 90% nilai konten berharga tersebut kepada Anda kembali.
Tsu yang mulai diluncurkan sekitar Oktober 2014 lalu mencoba menempatkan posisi sebagai media sosial yang berpihak pada pengguna. Selama ini medsos mainstream seperti FB dan Twitter seperti yang sudah kita ketahui, memanfaatkan postingan pengguna demi keuntungan pembuat medsos itu sendiri. Semua foto, video, dan tulisan yang dibagi oleh pengguna dan mendapatkan respons secara luas yang pada akhirnya meningkatkan rating iklan di medsos tersebut keuntungannya dinikmati oleh media sosial itu sendiri.
Dengan semangat untuk berpihak pada pengguna, Tsu berusaha menyerahkan kontrol postingan pada pengguna dengan cara membagi keuntungan dari pendapatan iklan yang disebabkan oleh ramainya traffic pengguna.
“YouTube telah memulai konsep menarik ini di mana kita harus memberikan imbalan pada pembuat konten dan mereka telah menciptakan model bisnis mendunia ini yang terbukti sangat sukses,” ujar pendiri Tsu, Sebastian Sobczak. “Kami mengambil konsep ini dan membawanya ke media sosial.”
Seperti yang dinyatakan di website-nya, Tsu akan membagikan 90% dari keuntungan iklan untuk pengguna berdasarkan traffic masing-masing pengguna, sedangkan hanya 10% untuk perusahaan. Pengguna akan mengetahui seberapa besar traffic yang mereka ciptakan dari postingan mereka maupun orang-orang yang ada dalam network.
Hasil pembayaran yang kita terima sebagai pengguna bisa kita donasikan ke yayasan ataupun masuk ke kantong kita sendiri. Semakin kita aktif membuat postingan yang mendapatkan respons luas akan semakin besar nilai uang yang kita dapatkan.
Bentuk penggunaan Tsu sebetulnya tidak jauh berbeda dengan media sosial lain, bahkan bisa dianggap sebagai gabungan antara Facebook dan Twitter, ada Feed tempat kita mem-posting status, foto, video, atau link-link lain. Kemudian ada friends, followers, following. Yang agak sedikit membedakan ada bagian Analytics dan Family Tree. Analytics memberikan statistik traffic dari postingan kita dan Family Tree menunjukkan network yang telah kita bangun.
Menurut laporan ZDNet dalam waktu empat minggu setelah peluncuran Tsu telah memiliki satu juta pengguna. Sebuah rekor tersendiri jika dibandingkan FB yang memerlukan waktu 10 bulan untuk mencapai angka yang sama. Tentu saja, hal ini tidak bisa dibandingkan karena kondisi saat ini orang-orang sudah banyak yang melek internet dan media sosial. Namun setidaknya bisa menggambarkan kesuksesan Tsu.
Saat ini untuk menjadi anggota Tsu harus melalui undangan dari orang yang sudah memiliki akun atau Anda bisa mendaftar disini
Untuk mendapatkan pembagian keuntungan dari Tsu cukup mudah, hanya dengan update status, upload foto, berkomentar maupun mengundang teman untuk ikut menggunakan Tsu. Sebenarnya setiap apapun yang Anda lakukan pada media sosial manapun merupakan sebuah konten yang bernilai, yang menarik para pemasang iklan maupun sponsor pada media sosial, namun keuntungan dari konten milik Anda tersebut tidak diberikan kepada Anda sama sekali, Anda hanya disuruh update status sebanyak-banyaknya, upload foto narsis tanpa bayaran, jadi komentator pada status teman tanpa keuntungan apapun, padahal semua itu adalah konten berharga bagi perusahaan Social Network. Namun di sosial media baru bernama Tsu ini mereka memberikan 90% nilai konten berharga tersebut kepada Anda kembali.
Tsu yang mulai diluncurkan sekitar Oktober 2014 lalu mencoba menempatkan posisi sebagai media sosial yang berpihak pada pengguna. Selama ini medsos mainstream seperti FB dan Twitter seperti yang sudah kita ketahui, memanfaatkan postingan pengguna demi keuntungan pembuat medsos itu sendiri. Semua foto, video, dan tulisan yang dibagi oleh pengguna dan mendapatkan respons secara luas yang pada akhirnya meningkatkan rating iklan di medsos tersebut keuntungannya dinikmati oleh media sosial itu sendiri.
Dengan semangat untuk berpihak pada pengguna, Tsu berusaha menyerahkan kontrol postingan pada pengguna dengan cara membagi keuntungan dari pendapatan iklan yang disebabkan oleh ramainya traffic pengguna.
“YouTube telah memulai konsep menarik ini di mana kita harus memberikan imbalan pada pembuat konten dan mereka telah menciptakan model bisnis mendunia ini yang terbukti sangat sukses,” ujar pendiri Tsu, Sebastian Sobczak. “Kami mengambil konsep ini dan membawanya ke media sosial.”
Seperti yang dinyatakan di website-nya, Tsu akan membagikan 90% dari keuntungan iklan untuk pengguna berdasarkan traffic masing-masing pengguna, sedangkan hanya 10% untuk perusahaan. Pengguna akan mengetahui seberapa besar traffic yang mereka ciptakan dari postingan mereka maupun orang-orang yang ada dalam network.
Hasil pembayaran yang kita terima sebagai pengguna bisa kita donasikan ke yayasan ataupun masuk ke kantong kita sendiri. Semakin kita aktif membuat postingan yang mendapatkan respons luas akan semakin besar nilai uang yang kita dapatkan.
Bentuk penggunaan Tsu sebetulnya tidak jauh berbeda dengan media sosial lain, bahkan bisa dianggap sebagai gabungan antara Facebook dan Twitter, ada Feed tempat kita mem-posting status, foto, video, atau link-link lain. Kemudian ada friends, followers, following. Yang agak sedikit membedakan ada bagian Analytics dan Family Tree. Analytics memberikan statistik traffic dari postingan kita dan Family Tree menunjukkan network yang telah kita bangun.
Menurut laporan ZDNet dalam waktu empat minggu setelah peluncuran Tsu telah memiliki satu juta pengguna. Sebuah rekor tersendiri jika dibandingkan FB yang memerlukan waktu 10 bulan untuk mencapai angka yang sama. Tentu saja, hal ini tidak bisa dibandingkan karena kondisi saat ini orang-orang sudah banyak yang melek internet dan media sosial. Namun setidaknya bisa menggambarkan kesuksesan Tsu.
Saat ini untuk menjadi anggota Tsu harus melalui undangan dari orang yang sudah memiliki akun atau Anda bisa mendaftar disini
00.50
Unknown
0 komentar :
Posting Komentar